Museum Wayang Kekayon Yogyakarta
Museum Wayang Kekayon Yogyakarta adalah museum mengenai wayang yang ada di kota Yogyakarta, tepatnya di Jl. Raya Yogya-Wonosari Km. 7, kurang lebih 1 km
dari Ring Road Timur. Museum yang didirikan pada tahun 1990 ini memiliki koleksi berbagai wayang dan topengserta menampilkan
sejarah wayang yang diperkenalkan mulai dari abad ke-6 sampai abad ke-20.
Wayang-wayang di dalam museum ini terbuat baik dari kulit, kayu, kain, maupun kertas.
Sama halnya dengan museum Wayang di Jakarta, museum ini
mempunyai beberapa jenis wayang, seperti: wayang Purwa, wayang Madya (menceritakan era pasca perang Baratayuda), wayang Thengul, wayang Klithik (mengisahkan Damarwulan dan Minakjinggo),wayang beber, wayang Gedhog (cerita Dewi Candrakirana), wayang Suluh (mengenai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia), dan lain lain. Berkaitan dengan wayang Purwa, museum ini
memiliki beberapa poster yang menggambarkan strategi perang yang dipakai dalam
perang Baratayuda antara keluarga Pandawa dan Kurawa, yaitu: strategi Sapit Urang dan strategi Gajah.
Biaya Masuk
·
Pelajar/umum: Rp. 7.000,-/orang
·
Wisatawan asing: Rp. 10.000,-/orang
·
Biaya membawa kamera: Rp. 10.000,-
·
Rombongan: via konfirmasi ke pengelola museum
Jam Buka Museum
·
Selasa Minggu pukul 08.00 - 15.00 WIB
·
Hari Senin: Tutup
Kontak
·
Alamat: Jl. Raya Yogya - Wonosari Km. 7, No. 277 Bantul Yogyakarta
·
Telp. (0274) 2672900, 379058, 0811255151
·
Email: museumwayangkekayon@gmail.com
·
Facebook: Museum Wayang Kekayon Yogyakarta
Akses:
Lokasi Museum Kekayon
yang tepat berada tepat di jalan utama penghubung Kota Yogyakarta dengan
Kabupaten Gunung Kidul, memudahkan akses menuju museum ini. Dari bandara Adi
Sucipto, museum ini berjarak 6 Kilometer. Sedangkan dari terminal bus Giwangan
berjarak 5 kilometer. Bila Bila ditempuh dari stasiun Tugu, Malioboro, dan
Keraton Yogyakarta sekitar 10 Kilometer. Anda dapat menggunakana kendaraan
pribadi, angkutan umum jurusan Yogyakarta-Wonosari, atau taksi untuk lebih
cepatnya.
Sejarah:
Pendiri Museum Wayang Kekayon adalah Soejono
Prawirohadikusumo. Inspirasi museum diperoleh saat studi di Gronigen,
Belanda pada tahun 1966-1967. Pada waktu itu seorang direktur
Rijksmuseum, Amsterdam mengemukakan adalah dosa bila di Yogyakarta tidak
memiliki museum wayang dan mendirikan museum pribadi bukanlah persoalan
kaya atau berduit, tetapi persoalan motivasi, ketekunan, dan kesabaran.
Contoh konkret adalah seorang amtenar di Purworejo
berbekal ketekunan yang luar biasa dapat mempunyai koleksi yang sangat
besar dan bernilai; di kemudian hari dihadiahkan kepada Museum Nasional
di Jakarta. Amtenar tersebut bukan seorang miliarder, dia hanya seorang
pegawai biasa. Namun selama puluhan tahun dia membeli koleksi dari sisa
gajinya. Keberhasilannya mengoleksi adalah berkat ketekunan, kesabaran,
motivasi, dan panjangnya tahun.
Demikian ucapan direktur tersebut telah memberi inspirasi
kepada sang pendiri untuk mewujudkan sebuah museum wayang di Yogyakarta.
Setelah melalui waktu yang cukup panjang yakni seperempat abad kemudian
Museum Wayang Kekayon pun akhirnya berdiri dan diresmikan oleh Gubernur
DIY pada waktu itu yaitu Paku Alam VIII pada tanggal 5 Januari 1990.
Museum mulai beroperasi sepenuhnya 1,5 tahun kemudian.


Keunikan:
Didalam museum ini terdapat 101 wayang kurawa lengkap dan berbagai patung wayang serta cerita singkatnya di tempel di kaca . Alur dari wayang pertama hingga modern terdapat dalam museum ini. dengan hanya membayar 7.000 kita sudah dapat guide yang menjelaskan dan kita dapat bertanya tentang wayang yang ada disana. Tidak hanya wayang, ada juga beberapa lukisan wayang yang menggambarkan sebuah cerita.
Karakter wayang :
Hanoman.
Kelahiran
Pentas Ramayana di Candi Prambanan, YogyakartaAnjani
adalah puteri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga berwajah
kera. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa telanjang di telaga
Madirda. Suatu ketika, Batara Guru dan Batara Narada terbang melintasi
angkasa. Saat melihat Anjani, Batara Guru terkesima sampai mengeluarkan
air mani. Raja para dewa pewayangan itu pun mengusapnya dengan daun asam
(Bahasa Jawa: Sinom) lalu dibuangnya ke telaga. Daun sinom itu jatuh di
pangkuan Anjani. Ia pun memungut dan memakannya sehingga mengandung.
Ketika tiba saatnya melahirkan, Anjani dibantu para bidadari kiriman
Batara Guru. Ia melahirkan seekor bayi kera berbulu putih, sedangkan
dirinya sendiri kembali berwajah cantik dan dibawa ke kahyangan sebagai
bidadari.Mengabdi pada Sugriwa
SugriwaBayi
berwujud kera putih yang merupakan putera Anjani diambil oleh Batara
Bayu lalu diangkat sebagai anak. Setelah pendidikannya selesai, Hanoman
kembali ke dunia dan mengabdi pada pamannya, yaitu Sugriwa, raja kera
Gua Kiskenda. Saat itu, Sugriwa baru saja dikalahkan oleh kakaknya,
yaitu Subali, paman Hanoman lainnya. Hanoman berhasil bertemu Rama dan
Laksmana, sepasang pangeran dari Ayodhya yang sedang menjalani
pembuangan. Keduanya kemudian bekerja sama dengan Sugriwa untuk
mengalahkan Subali, dan bersama menyerang negeri Alengka membebaskan
Sita, istri Rama yang diculik Rahwana murid Subali.Melawan Alengka
Pertama-tama Hanoman menyusup ke istana Alengka untuk menyelidiki kekuatan Rahwana dan menyaksikan keadaan Sita. Di sana ia membuat kekacauan sehingga tertangkap dan dihukum bakar. Sebaliknya, Hanoman justru berhasil membakar sebagian ibu kota Alengka. Peristiwa tersebut terkenal dengan sebutan Hanoman Obong. Setelah Hanoman kembali ke tempat Rama, pasukan kera pun berangkat menyerbu Alengka. Hanoman tampil sebagai pahlawan yang banyak membunuh pasukan Alengka, misalnya Surpanaka (Sarpakenaka) adik Rahwana.
Tugas untuk Hanoman
Dalam pertempuran terakhir antara Rama kewalahan menandingi Rahwana yang memiliki Aji Pancasunya, yaitu kemampuan untuk hidup abadi. Setiap kali senjata Rama menewaskan Rahwana, seketika itu pula Rahwana bangkit kembali. Wibisana ,
adik Rahwana yang memihak Rama segera meminta Hanoman untuk membantu.
Hanoman pun mengangkat Gunung Ungrungan untuk ditimpakan di atas mayat
Rahwana ketika Rahwana baru saja tewas di tangan Rama untuk kesekian
kalinya. Melihat kelancangan Hanoman, Rama pun menghukumnya agar menjaga
kuburan Rahwana. Rama yakin kalau Rahwana masih hidup di bawah gencetan
gunung tersebut, dan setiap saat bisa melepaskan roh untuk membuat
kekacauan di dunia.Beberapa tahun kemudian setelah Rama meninggal, roh Rahwana meloloskan diri dari Gunung Ungrungan lalu pergi ke Pulau Jawa untuk mencari reinkarnasi Sita, yaitu Subadra adik Kresna. Kresna sendiri adalah reinkarnasi Rama. Hanoman mengejar dan bertemu Bima, adiknya sesama putera angkat Bayu. Hanoman kemudian mengabdi kepada Kresna. Ia juga berhasil menangkap roh Rahwana dan mengurungnya di Gunung Kendalisada. Di gunung itu Hanoman bertindak sebagai pertapa.
Anggota Keluarga
Berbeda dengan versi aslinya, Hanoman dalam pewayangan memiliki dua orang anak. Yang pertama bernama Trigangga yang
berwujud kera putih mirip dirinya. Konon, sewaktu pulang dari membakar
Alengka, Hanoman terbayang-bayang wajah Trijata, puteri Wibisana yang
menjaga Sita. Di atas lautan, air mani Hanoman jatuh dan menyebabkan air
laut mendidih. Tanpa sepengetahuannya, Baruna mencipta buih tersebut
menjadi Trigangga. Trigangga langsung dewasa dan berjumpa dengan Bukbis,
putera Rahwana. Keduanya bersahabat dan memihak Alengka melawan Rama.
Dalam perang tersebut Trigangga berhasil menculik Rama dan Laksmana
namun dikejar oleh Hanoman. Narada turun melerai dan menjelaskan
hubungan darah di antara kedua kera putih tersebut. Akhirnya, Trigangga
pun berbalik melawan Rahwana.Putera kedua Hanoman bernama Purwaganti , yang baru muncul pada zaman Pandawa. Ia berjasa menemukan kembali pusaka Yudistira yang hilang bernama Kalimasada. Purwaganti ini lahir dari seorang puteri pendeta yang dinikahi Hanoman, bernama Purwati.
Kematian
Hanoman berusia sangat panjang sampai bosan hidup. Narada turun mengabulkan permohonannya, yaitu "ingin mati", asalkan ia bisa menyelesaikan tugas terakhir, yaitu merukunkan keturunan keenam Arjuna yang sedang terlibat perang saudara. Hanoman pun menyamar dengan nama Resi Mayangkara dan berhasil menikahkan Astradarma, putera Sariwahana, dengan Pramesti, puteri Jayabaya. Antara keluarga Sariwahana dengan Jayabaya terlibat pertikaian meskipun mereka sama-sama keturunan Arjuna. Hanoman kemudian tampil menghadapi musuh Jayabaya yang bernama Yaksadewa, raja Selahuma. Dalam perang itu, Hanoman gugur, moksa bersama raganya, sedangkan Yaksadewa kembali ke wujud asalnya, yaitu Batara Kala, sang dewa kematian.
Opini:
Museum wayang ini sudah bagus tetapi tempatnya yang cukup jauh dari pusat kota. biaya masuknya lebih mahal dari museum yang lain tetapi kita memang sudah mendapatkan guide yang mengantar kita selama didalam museum. Pelayanannya juga ramah dan tempatnya bersih tetapi kurang terang jika memasuki sore. Semoga tempat ini lebih direnovasi dan ditambah lagi fasilitasnya sehingga akan menambah jumlah wisatawan yang berkunjung.
Sumber:
http://sobatjogja.com/wisata-sejarah-dari-museum-wayang-kekayon-yogyakarta/
https://gudeg.net/direktori/590/museum-wayang-kekayon.html
https://www.facebook.com/notes/wayang-nusantara-indonesian-shadow-puppets/anoman-hanuman-dalam-pewayangan-jawa/225512641109/





Tidak ada komentar:
Posting Komentar